Selasa, 01 Agustus 2023

Orang Yang Merusak Alam Dalam Al QurU2019an Disebut Sebagai

Strategi kesantunan Brown dan Levinson adalah konsep yang dikembangkan oleh dua ahli bahasa pragmatik, yaitu Penelope Brown dan Stephen Levinson. Konsep ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana orang berinteraksi secara sopan dan menghindari konflik dalam komunikasi sehari-hari. Strategi kesantunan ini menjadi dasar penting dalam memahami tata bahasa sosial dan norma-norma yang ada dalam masyarakat.

Menurut Brown dan Levinson, kesantunan adalah sebuah tindakan yang dirancang untuk menghindari ancaman atau gangguan terhadap wajah (face) individu dalam interaksi sosial. Wajah adalah identitas sosial dan citra diri seseorang yang ingin dijaga dan dihormati oleh orang lain. Dalam menjaga kesantunan, ada dua aspek yang diperhatikan, yaitu kesantunan positif (positive politeness) dan kesantunan negatif (negative politeness).

Kesantunan positif adalah strategi yang digunakan untuk menyampaikan apresiasi, penghargaan, dan perhatian positif kepada lawan bicara. Contohnya adalah menggunakan ungkapan-ungkapan sopan seperti ‘terima kasih’, ‘silakan’, dan ‘maaf’. Dengan menggunakan kesantunan positif, kita menunjukkan penghargaan dan menjaga hubungan yang harmonis dengan lawan bicara.

Di sisi lain, kesantunan negatif adalah strategi yang digunakan untuk menghormati privasi dan kebebasan individu. Contohnya adalah menggunakan ungkapan-ungkapan seperti ‘bolehkah saya mengganggu sebentar?’, ‘jika tidak keberatan, bisakah Anda membantu saya?’. Dengan menggunakan kesantunan negatif, kita memberikan ruang bagi lawan bicara untuk menolak atau memberikan persetujuan tanpa tekanan.

Brown dan Levinson juga mengemukakan konsep wajah yang terbagi menjadi dua, yaitu wajah positif (positive face) dan wajah negatif (negative face). Wajah positif berkaitan dengan kebutuhan akan penerimaan, pujian, dan pengakuan dari orang lain. Sementara itu, wajah negatif berkaitan dengan kebutuhan akan otonomi, kebebasan, dan privasi. Strategi kesantunan dikembangkan untuk menjaga keseimbangan dan menghormati kedua aspek wajah ini dalam interaksi sosial.

Penerapan strategi kesantunan Brown dan Levinson dapat membantu dalam membangun hubungan yang harmonis dan menghindari konflik dalam komunikasi. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap budaya dan konteks memiliki norma kesantunan yang berbeda. Apa yang dianggap sopan dalam satu budaya mungkin tidak relevan dalam budaya lain. Oleh karena itu, penting untuk memahami konteks budaya dan norma-norma yang berlaku dalam berinteraksi secara sopan.

Dalam strategi kesantunan Brown dan Levinson adalah kerangka kerja yang membantu menjaga keseimbangan dalam interaksi sosial. Dengan memperhatikan kesantunan positif dan negatif, serta memahami kebutuhan wajah positif dan negatif individu, kita dapat menciptakan komunikasi yang sopan, menghormati, dan harmonis.